
Pagi itu, SMA Negeri 1 Temanggung masih diselimuti kabut tipis. Udara dingin khas pegunungan menusuk tulang, namun tidak bagi Bima. Ia justru bersemangat karena hari ini ia bertugas menemani Lukas, siswa pertukaran pelajar asal Hamburg, Jerman.
Bima melihat Lukas berdiri sendirian di depan aula dengan wajah bingung. Sambil tersenyum, Bima mendekat.
"Guten Morgen, Lukas!" sapa Bima dengan ramah.
Lukas menoleh dan wajahnya langsung cerah. "Guten Morgen!" jawabnya.
Bima kemudian memperkenalkan dirinya secara resmi dalam bahasa Jerman agar Lukas merasa lebih nyaman. "Ich heiße Bima," katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ich heiße Lukas. Freut mich, Bima," balas Lukas sambil menjabat tangan Bima.
Saat berjalan menuju kelas, Bima tidak sengaja menyenggol bahu Lukas karena jalanan yang licin setelah hujan semalam.
"Oh, Entschuldigung, Lukas! Aku tidak sengaja," ucap Bima spontan.
"Kein Problem, Bima. Santai saja," jawab Lukas dengan bahasa Indonesia yang masih kaku.
Sesampainya di kelas, Bima memberikan sebuah bungkusan kecil berisi camilan khas Temanggung. "Ini untukmu, namanya Lento. Cobalah."
Lukas mencicipinya dan matanya berbinar. "Danke schön, Bima! Ini enak sekali."
"Bitte sehr," jawab Bima, yang artinya 'sama-sama'.
Bel masuk berbunyi. Bima harus kembali ke kelasnya sendiri yang berada di gedung sebelah.
"Aku harus pergi ke kelasku sekarang, Lukas. Sampai bertemu nanti di kantin!"
"Oke! Auf Wiedersehen, Bima!" seru Lukas melambaikan tangan.
"Auf Wiedersehen!" balas Bima sambil berlari kecil.
Pesan Moral: Perbedaan bahasa bukan penghalang untuk menjalin persahabatan. Dengan sedikit keberanian untuk belajar bahasa baru, kita bisa membuat orang lain merasa diterima dan dihargai.
Tantangan kecil :
Jadilah yang pertama berkomentar di sini