Cortis bikin Gen Z Indonesia rela ikut tren fesyen ala boyband K-pop ini. Tapi di balik gaya kerennya, ada teori sosiologi yang terungkap.

Cortis bikin Gen Z Indonesia rela ikut tren fesyen ala boyband K-pop ini. Tapi di balik gaya kerennya, ada teori sosiologi yang terungkap.

Selasa, 3 November 2026 07:13 WIB
380 | -

Siapa Cortis dan Mengapa Gayanya Berbeda?
Cortis merupakan boyband ketiga yang didebutkan oleh Big Hit Music setelah BTS dan tomorrow X Together. Grup ini dikenal sebagai “Young Creator Crew” karena kelima membernya turut terlibat langsung dalam proses penulisan lagu, koreografi, hingga penyutradaraan video music mereka sendiri.


Sejak debut Agustus 2025 lalu, cortis emang dikenal mempunyai identitas visual outfit yang kuat. Campuran skater-punk, grunge era 2000-an awal, dipadu sneakers, jaket kulit, sampai celana baggy yang kesannya berantakan tapi sengaja. Saking dekatnya fashion sama identitas grup ini, mereka bahkan punya lagu yang judulnya Fashion. Jadi tidak heran kalau  banyak akun fanbase di Instagram khusus mengarsipkan gaya berpakaian mereka, dari look formal sampai outfit sehari-hari.
Tren ini lantas menyebar ke Tanah Air. Berbagai e-commerce dan platform belanja fashion mulai bikin konten yang berkaitan dengan cara berpakaian member Cortis, lengkap dengan item yang identik dengan grup ini.
Tren Fashion yang Memaksa Tanpa Disadari
Jika dilihat dari lensa sosiologi, ini relevan  dengan teori yang di jelaskan oleh Marx bahwa dalam masyarakat kapitalis, sebuah barang tidak lagi dinilai dari fungsi pakainya (Use Value), tapi dari relasinya dengan barang dan simbol lain termasuk dengan relasinya dengan sosok yang memakainya. Fans pun merasa harus memiliki barang serupa, terlepas dari apakah barang itu benar-benar dibutuhkan atau tidak.
Tren fesyen Cortis bisa dibaca sebagai bentuk fakta sosial yang sedang bekerja di kalangan Gen Z. Begitu sebuah gaya berpakaian sudah "mengkristal" jadi standar dalam sirkel  pertemanan atau fandom, individu nggak lagi merasa itu sebagai pilihan bebas, melainkan sebagai sesuatu yang sudah "ada" di luar dirinya dan menuntut untuk diikuti. Itulah sebabnya banyak remaja merasa harus tampil dengan gaya serupa meski secara sadar mereka tahu itu bukan keinginan murni dari dalam, melainkan tekanan kolektif dari lingkungan sosialnya.
Bukan Cuma Soal Racun, Ada Sisi Positif yang Sering Dilewatkan
Selain itu, tren ini juga membuka peluang ekonomi buat brand lokal dan UMKM fashion buat berinovasi mengikuti gelombang minat streetwear yang sedang naik, tanpa harus selalu beli barang branded mahal. Banyak alternatif lokal yang menawarkan gaya serupa dengan harga jauh lebih ramah kantong.
Menariknya, hingga awal 2026, Cortis justru belum banyak menggandeng partnership fashion mewah besar layaknya grup rookie K-pop lain, meski gaya mereka udah sering dilihat di label-label besar macam Dior. Artinya, identitas fashion grup ini lebih banyak lahir dari otentik yang berasal dari identitas grup ketimbang strategi endorsement semata, yang bisa jadi alasan kenapa daya pengaruhnya ke fans terasa lebih "organik".
Jadi, Racun atau Bukan?
Pada akhirnya, label racun mungkin terlalu ekstrem. Yang lebih tepat fesyen   adalah cermin dari bagaimana budaya K-pop terus membentuk preferensi estetika generasi muda. Fenomena “Ngortis” pada akhirnya menunjukkan bagaimana selera fashion Gen Z bergeser dari gaya boyband yang terkesan jauh dan glamour, ke gaya yang terasa dekat, personal dan bisa diadaptasi dalam kehidupan sehari-sehari. CORTIS berhasil membuktikan bahwa fashion bukan soal keseragaman, melainkan soal keberanian mengekspresikan diri, sebuah pesan yang rupanya menemukan resonansinya sendiri di kalangan anak muda Indonesia.


Sumber artikel : Indonesiana by Tempo 
Penulis artikel : Ayesha Putri

Berdasarkan bacaan, pergeseran makna istilah "Ngortis" dari sekadar sapaan sesama penggemar menjadi sebuah standar gaya berpakaian di kalangan Gen Z hingga milenial merupakan bentuk fakta sosial. Mengapa fenomena fashion ini dapat digolongkan sebagai fakta sosial?
A. Gaya busana Cortis muncul secara alami dari keinginan subjektif dan dorongan murni individu.
B. Gaya busana tersebut berada di luar individu dan memiliki kekuatan memaksa (coercive power) yang menuntut individu untuk mengikutinya.
C. Seluruh penggemar K-pop secara langsung dipaksa oleh pihak manajemen Big Hit Music untuk membeli produk fashion tersebut.
D. Tren fesyen ini hanya berlaku bagi anggota fandom resmi "Coer" dan tidak menyebar ke masyarakat umum.
E. Setiap individu memiliki kebebasan penuh tanpa dipengaruhi oleh norma atau standar kelompok pertemanan.


Dalam artikel disebutkan bahwa tren fesyen Cortis relevan dengan teori Karl Marx mengenai masyarakat kapitalis, di mana sebuah barang tidak lagi hanya dinilai berdasarkan Use Value (Nilai Guna). Fenomena yang menggambarkan pernyataan tersebut berdasarkan teks adalah...
A. Pembeli membeli jaket kulit semata-mata karena fungsi utamanya untuk melindungi tubuh dari udara dingin.
B. Penggemar memprioritaskan fungsi praktis pakaian di atas estetika atau identitas grup.
C. Penggemar membeli barang serupa dengan member Cortis karena relasi barang tersebut dengan simbol dan sosok pemakainya, terlepas dari butuh atau tidaknya.
D. Barang-barang fashion menjadi mahal semata-mata karena biaya bahan baku produksi lokal yang meningkat.
E. Konsumen berhenti membeli pakaian streetwear karena tidak sesuai dengan standar kebutuhan sehari-hari.

Tren "Ngortis" tidak hanya memengaruhi selera berpakaian, tetapi juga memberikan dampak positif pada sektor ekonomi. Pernyataan yang paling tepat menggambarkan dampak ekonomi dari fenomena ini menurut teks adalah…
A. Terjadinya monopoli pasar pakaian oleh brand-brand mewah internasional seperti Dior.
B. Penurunan produksi tekstil lokal akibat tingginya konsumsi produk impor Korea Selatan.
C. Peluang inovasi bagi brand lokal dan UMKM fashion untuk menyediakan streetwear serupa dengan harga terjangkau.
D. Penurunan pendapatan e-commerce karena berkurangnya minat belanja masyarakat terhadap fashion branded.
E. Kewajiban bagi setiap penggemar untuk membeli item fashion asli (original) yang digunakan oleh member Cortis.


Berdasarkan teks, manakah pernyataan berikut yang menggambarkan keunikan penyebaran pengaruh grup Cortis jika dibandingkan dengan lagunya sendiri?
A. Lagu-lagu Cortis menyebar lebih cepat dibanding tren fashion karena grup ini diposisikan sebagai "Young Creator Crew".
B. Tren gaya berpakaian Cortis menyebar lebih cepat dibandingkan dengan karya lagu-lagu mereka sendiri.
C. Gaya berpakaian Cortis hanya populer di Korea Selatan, sedangkan lagu-lagunya mendunia.
D. Penyebaran tren gaya berpakaian Cortis lambat karena belum didukung oleh endorsement brand mewah internasional.
E. Fans hanya tertarik pada pembuatan video musik ketimbang mengikuti gaya busana para member.

Dalam artikel disebutkan bahwa gaya Cortis menekankan pada "keberanian mengekspresikan diri dan rasa personal". Bagaimanakah generasi muda Indonesia dapat memanfaatkan semangat "keberanian mengekspresikan diri" tersebut untuk mereorganisasi dan mempopulerkan budaya lokal kita sendiri? Tuliskan pendapatmu!


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini